Sergius Gustaf

Category: another entry — (5)

Aku dilawan kota

Di bawah langit malam yang memerah,
di balik rimba kelabu yang membatu.
Kumpulan sepi seperti hidup kembali
yang segalanya berada dalam rajutan ego

Burung-burung tak lagi berciuman,
blok-blok beton meringkuk menyesap,
kabel kusut pinggir jalan merapal muram,
dan klakson sumbang melemparkan senyap.

Akan kusimpan senyuman paling manis dirimu
dalam kotak besi dan akan kusembunyikan
di sudut kota paling gelap, agar aku dapat
memujamu di tengah badai yang tak pernah lesap.

“Bahkan orang paling humanis akhirnya menangis”

Di ramai lalu lalang pikiran,
di simpang siur kebenaran.
Amarah merekah,
tak satupun mengalah.

Aku dilawan kota
Siapa yang menang?

New year eve

They stay awake

until this very midnight

and perhaps till the dawn come alive.

Happy for what they’ve achieved

throughout the year,

they believe give them everything.

When the dawn come alive

and the light erase night’s hopes

sure it is the very right place

to write another story of our own.

– 11.01 pm, an hour before new year eve

hujan pagi ini

saat ini

jarak kita tidak akan mendekat

dan hujan masih menggemuruh di luar sana

aku cuma punya satu permintaan

di tengah badai yang bergejolak

aku minta agar matamu tetap kering

di antara musim hujan kali ini

– rumah, 01.50 a.m.

Alone

ALONE

Aku ingin melangkah keluar
dari semua keributan manusia
yang merasa dirinya bukan manusia.

Aku ingin menyendiri, mungkin
di sebuah kedai kopi pinggir kota
atau di atas bukit yang menghadap laut.

Untuk sekedar menulis beberapa bait sajak, juga untuk bernafas lega karena berhasil menjauh dari kemunafikan manusia

Saat sendiri, aku bisa merasa di mana saja di bawah kubah Hagia Sophia, di antara Gurun Atacama, atau jalanan sepi di luar sana

Saat sendiri, aku merasa bukan diriku sendiri
segala yang tampak menjadi segala yang sulit ditebak
waktu, langit biru, burung camar, mata dan bibir merahmu
semua tertutup bayangan hitam masa lalu

Sekarang, aku hanya ingin sendiri
karena aku ingin merasa bukan menjadi diriku

North

NORTH

suatu hari di penghujung musim hujan
aku pernah membuat sebuah sajak

yang selalu berhenti di koma, setelah kata ‘kamu’.
kubiarkan dia berhenti, seperti seorang
intelek yang kehilangan penanya. Atau
seorang pemancing yang kehilangan pancingnya.
kadang dia menyentuh awan di langit sore,

dan mengubahnya menjadi senja
dengan warna jingga dan violet.
“jika kau ingin aku kembali, pulanglah ke utara

pulanglah menghadap ganasnya ombak.

karena aku akan kembali sebagai matahari terbenam,
di langit sore yang tertutup awan”

Lost

LOST.jpg

Aku tersesat
di antara matamu
yang tertutup kacamata coklat
ataupun bibir bergincu merah

Aku tersesat
di antara barat dan timur
padahal yang aku cari
berada di antara utara dan selatan

Aku tersesat
di antara esok dan kemarin
yang berselimut ketakutan akan takdir

Aku tersesat
di antara obrolan kita
yang tak pernah terjadi

Aku tersesat
dalam ingatanmu
yang penuh akan cerita
cerita tentang langit biru.

Aku tersesat
Aku tersesat dalam mata dan bibirmu
yang selalu mengantarku pulang
di penghujung malam

Mengobrol

Hari Rabu

Pukul 11.10

Kelas optika baru saja selesai. Lobi lantai 2 akan ramai dengan orang yang membeli jajan danus. Seperti biasa, aku akan ke lobi lantai 2 hanya untuk sekedar mengobrol ringan, sesekali sampai ke obrolan politik kampus. Hal kecil yang tetap membuatku menjadi manusia.

11.27
3 menit cukup untuk berjalan sampai ke kantin teknik. Kali ini kau duduk di deretan meja di sisi barat, tepat di seberang kios penjual gado-gado dan pecel. Di meja sudah ada segelas es jeruk yang sudah kau minum sedikit, dan secangkir kopi hitam dengan ampasnya yang masih di permukaan.

Aku menyapa, meletakkan tas di meja, lalu duduk tepat di hadapanmu. Sedetik kemudian senyummu mengembang, pipimu berseri, dan matamu berbinar di balik kacamata merahmu. Kau yang pertama kali bercerita, dimulai dengan cerita kuliahmu tadi pagi, lalu tugas studiomu yang masih jauh dari selesai, dilanjut dengan keadaan humas himpunanmu yang sudah mulai sepi.

Ampas kopi sudah turun. Tegukan pertama memang nikmat, sungguh nikmat. Kau menanyakan kenapa aku akhir-akhir ini sering begadang. Dan mulailah aku bercerita tentang materi elektromagnetika yang benar-benar sulit dipahami, dan juga usahaku mencari kos baru kemarin sore di daerah sebelah utara kampus. Kantin mulai ramai dengan mahasiswa dan beberapa dosen. Obrolan kita bergulir ke film star wars terbaru yang akan rilis di bulan Desember. Aku memberimu kuliah tentang Storm troopers, Jedi, Lightsaber, Darth Vader, dan lainnya. Kau mendengarkan dengan serius seolah ini kuliah tentang Urban Economics.

Obrolan berganti ke lagu tren masa kini. Kau mengeluh kalau kau sudah bosan dengan lagu Chainsmoker yang diputar di hampir semua tempat. Kau memberikanku daftar lagu hits yang enak di dengar. Maklum, aku memang tidak update dengan lagu sekarang. Aku masih setia dengan lagu pop rock jadul yang katamu mirip dengan selera musik bapakmu.

12.47

Es jerukmu sudah lama habis, dan gelas kopi ku sudah tinggal ampasnya saja. Kau bilang kalau ada kelas Perencanaan Tata Guna Lahan jam 1 siang. Aku juga ada kelas umum pancasila, tapi nanti jam 2 siang. Mungkin aku akan kembali ke gedung jurusan dahulu sambil menunggu kelas. Sebelum berpisah, kau meninju lenganku pelan.

Sembari tersenyum, kau menyemangatiku.

“Duluan ya!”

“Ya, hati hati”

Sesederhana itu…

Iya, sesederhana itu.