Sergius Gustaf

Aku dilawan kota

another entry

Di bawah langit malam yang memerah,
di balik rimba kelabu yang membatu.
Kumpulan sepi seperti hidup kembali
yang segalanya berada dalam rajutan ego

Burung-burung tak lagi berciuman,
blok-blok beton meringkuk menyesap,
kabel kusut pinggir jalan merapal muram,
dan klakson sumbang melemparkan senyap.

Akan kusimpan senyuman paling manis dirimu
dalam kotak besi dan akan kusembunyikan
di sudut kota paling gelap, agar aku dapat
memujamu di tengah badai yang tak pernah lesap.

“Bahkan orang paling humanis akhirnya menangis”

Di ramai lalu lalang pikiran,
di simpang siur kebenaran.
Amarah merekah,
tak satupun mengalah.

Aku dilawan kota
Siapa yang menang?