Mengobrol
Hari Rabu
Pukul 11.10
Kelas optika baru saja selesai. Lobi lantai 2 akan ramai dengan orang yang membeli jajan danus. Seperti biasa, aku akan ke lobi lantai 2 hanya untuk sekedar mengobrol ringan, sesekali sampai ke obrolan politik kampus. Hal kecil yang tetap membuatku menjadi manusia.
11.27
3 menit cukup untuk berjalan sampai ke kantin teknik. Kali ini kau duduk di deretan meja di sisi barat, tepat di seberang kios penjual gado-gado dan pecel. Di meja sudah ada segelas es jeruk yang sudah kau minum sedikit, dan secangkir kopi hitam dengan ampasnya yang masih di permukaan.
Aku menyapa, meletakkan tas di meja, lalu duduk tepat di hadapanmu. Sedetik kemudian senyummu mengembang, pipimu berseri, dan matamu berbinar di balik kacamata merahmu. Kau yang pertama kali bercerita, dimulai dengan cerita kuliahmu tadi pagi, lalu tugas studiomu yang masih jauh dari selesai, dilanjut dengan keadaan humas himpunanmu yang sudah mulai sepi.
Ampas kopi sudah turun. Tegukan pertama memang nikmat, sungguh nikmat. Kau menanyakan kenapa aku akhir-akhir ini sering begadang. Dan mulailah aku bercerita tentang materi elektromagnetika yang benar-benar sulit dipahami, dan juga usahaku mencari kos baru kemarin sore di daerah sebelah utara kampus. Kantin mulai ramai dengan mahasiswa dan beberapa dosen. Obrolan kita bergulir ke film star wars terbaru yang akan rilis di bulan Desember. Aku memberimu kuliah tentang Storm troopers, Jedi, Lightsaber, Darth Vader, dan lainnya. Kau mendengarkan dengan serius seolah ini kuliah tentang Urban Economics.
Obrolan berganti ke lagu tren masa kini. Kau mengeluh kalau kau sudah bosan dengan lagu Chainsmoker yang diputar di hampir semua tempat. Kau memberikanku daftar lagu hits yang enak di dengar. Maklum, aku memang tidak update dengan lagu sekarang. Aku masih setia dengan lagu pop rock jadul yang katamu mirip dengan selera musik bapakmu.
12.47
Es jerukmu sudah lama habis, dan gelas kopi ku sudah tinggal ampasnya saja. Kau bilang kalau ada kelas Perencanaan Tata Guna Lahan jam 1 siang. Aku juga ada kelas umum pancasila, tapi nanti jam 2 siang. Mungkin aku akan kembali ke gedung jurusan dahulu sambil menunggu kelas. Sebelum berpisah, kau meninju lenganku pelan.
Sembari tersenyum, kau menyemangatiku.
“Duluan ya!”
“Ya, hati hati”
Sesederhana itu…
Iya, sesederhana itu.