Aku melirik jam tangan ku. Pukul 20.11, dan kau masih belum muncul. Aku menyeruput kopi yang sudah dari tadi menemaniku duduk menunggumu. Sedikit bosan, aku mengeluarkan sebatang rokok. Sial, Ini rokok terakhir!
Suasana café ramai, seperti biasanya. Maklum, Legend memang sudah jadi langganan orang-orang yang ingin menikmati makanan di luar rumah, ataupun untuk sekedar bertemu dengan teman-teman. Ada lima orang, sepertinya anak SMA di meja sebelah. Mereka sibuk bercerita, berfoto, dan bermain handphone mereka.
8 menit kemudian kamu datang, diantar seorang teman perempuan yang aku sudah kenal, rini namanya. Mata kita bertemu sebentar, kau menutup pintu mobil, dan langsung berjalan mendekati meja ini dengan langkah dipercepat.
“Kok kamu masih ngerokok sih, kan kamu udah janji ga mau ngerokok lagi!”
“Ya gimana lagi, aku bosen di sini. Lagian ini rokok terakhir, sayang kalo dibuang gitu aja.”
Sial! Aku lupa kalau aku pernah janji untuk tidak merokok lagi. Melihatmu semakin cemberut, aku langsung mematikan rokok yang sudah setengah habis dan langsung meminta maaf. Kamu meletakkan tas di meja, duduk, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan untuk kita berdua.
Menunggu pesanan kita datang, kau mulai bercerita tentang kegiatanmu hari ini. Dimulai dari tadi pagi, kamu menemani mama mu jogging di GSP, siangnya kamu ke kampus untuk hadir di gathering panitia, dan sorenya kamu menemani temanmu si Rini untuk berbelanja di Hartono Mall. Lalu kau menanyakan apa yang aku lakukan seharian ini. Sedikit kebingungan mau jawab apa, karena, yaaah, hari ini kegiatanku cuma baca buku dan mengerjakan laporan praktikum. Jujur saja, dari tadi aku tidak terlalu fokus pada ceritamu. Pandanganku tidak bisa lepas dari bibir merahmu, dan matamu yang indah itu.
Percakapan terhenti saat pesanan kita datang. Aku memesan onion rings dan lemon tea, sedangkan kamu memesan sandwich dan lychee iced tea. Entah bagaimana, percakapan mulai kembali dengan topik pembicaraan makanan italia dan perancis. Kau berargumen bahwa makanan perancis lebih kaya rasa, dan lebih elegan penyajiannya. Sedangkan aku tetap bertahan pada makanan italia, dengan alasan semua orang suka pizza dan spageti. Sebenarnya sedikit konyol berargumen mengenai hal-hal yang kita berdua belum mengerti sepenuhnya. Tapi yasudahlah. Sembari mengobrol, aku meminta sepotong sandwich dan menyeruput lychee iced tea milikmu, dan kau pun begitu. Bahkan kau memakan banyak onion ring milikku.
Sandwich dan onion ring sudah habis. Minuman kita tinggal setengah gelas. Kita berdua sama-sama bingung ingin memulai pembicaraan apa lagi. Dalam kondisi mati gaya seperti ini, seperti biasa, kamu mengeluarkan handphone mu dan mulai berselancar indah di sana. Aku? Aku yang tidak membawa handphone cuma bisa memperhatikan dirimu dari hadapanmu. Rambut digerai, bibir merah, sepasang mata dibalik kacamata frame bulat coklat, kemeja putih, dan jam tangan melingkar di tangan kiri.
Lemon tea ku sudah habis. Aku ingat kalau ada pameran lukisan di Sangkring art space yang sedikit jauh dari kota. Aku tawarkan ke kamu, kamu mengangguk tanda setuju. Langsung saja kita berdua menuju ke pameran tersebut. Letak art spacenya memang sedikit jauh dari pusat kota, tapi menjadi tempat yang sering digunakan sebagai pameran seni selain Taman Budaya.
Suasana pameran lumayan ramai. Aku selalu merasa aneh kalau berada di tempat ini. Banyak orang-orang yang menurutku berpakaian yang sangat terlihat kalau dia orang seni. Seperti potongan rambut yang sedikit tidak wajar, pakaian yang tabrak warna, dan pembawaan yang menurut aku aneh. Ada seorang lelaki yang menggunakan kaos pink ditutupi jaket denim, celana jeans di atas lutut, dan tote bag putih. Sangat beda denganku yang hanya memakai pakaian seperti manusia normal layaknya lelaki metroseksual lainnya.
Kita berdua berlalu dari satu lukisan ke lukisan berikutnya, sambil memegang tanganmu agar tidak terlepas di lautan manusia yang menghabiskan malam mereka dengan menikati karya seni. Apa yang terjadi di sana seperti perulangan saja. Kita berdua berdiri di hadapan lukisan besar, dengan warna pigura hitam yang sangat kontras dengan tembok putih; diam beberapa menit untuk menikmati lukisan; saling bertanya apa maksud dari lukisan tersebut; memberikan beberapa komentar; kemudian berlalu ke lukisan lain.
Pada lukisan ke-empat belas kau tampak serius dan berdiri lebih lama daripada di hadapan lukisan yang lain. Sebuah lukisan dengan visual seorang perempuan, dan dunia yang kita hidup yang dilukiskan dengan dramatis. Kau berdiri di sebelahku, seperti membeku, tetapi matamu menyapu lukisan di hadapanmu dari ujung ke ujung. Tiada bagian yang lupus dari pandanganmu. Aku tidak mau mengganggu mu. Yang aku lakukan hanya menatapmu, mengagumi setiap lekuk wajahmu.
Aku sangat hafal seperti apa dirimu waktu itu. Iris matamu yang berwarna hazelnut, rambutmu yang digerai sebahu, bibirmu yang merah muda itu. Dan kau mengenakan kemeja putih, sepatu vans berwarna maroon, tak lupa jam tangan alexandre christie dengan strap coklat. Entahlah, di mataku, kau sangat cantik malam itu.
Sepulang dari pameran, ketika aku mengarah ke rumahmu, kau menolak untuk cepat pulang, malah kau mengajak ke angkringan koboy, untuk membeli beberapa gorengan dan segelas teh hangat untuk menemani bercerita. Kau berkata kalau kau sudah memberi tahu orang tuamu untuk pulang telat. Aku menurut. 15 menit kemudian kita sudah duduk bersebelahan memandang jalan dengan segelas kopi dan segelas teh hangat, dan sepiring gorengan.
Kita bercerita banyak hal, dari negara mana yang paling aneh menurut kita masing-masing, mengapa gunung memiliki kesan bahwa dia gagah, cerita bencana merapi, dan gempa bantul, buku-buku yang akhir-akhir ini dibaca, komik indonesia yang mulai berkembang, film-film bioskop terbaru, sampai band lokal dan lagu-lagu mereka.
Kita berdua terlalu larut dalam cerita kita, sampai akhirnya kita sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah 1 malam. Gorengan sudah habis, begitu pula minuman di gelas kita. Kau sudah merasa mengantuk, sedangkan aku tidak. Efek kopi tadi sudah bekerja. Cukup bahaya kalau aku mengantuk di sepanjang jalan saat mengantarmu pulang.
Aku menyetir, kau duduk di sebelah dan langsung terlelap. Sampai di depan rumahmu, aku membangunkanmu pelan. Sebenarnya cukup susah juga membangunkanmu. Aku sampai harus menggoyangkan badanmu tiga kali baru kau mau bangun. Kuantar kau sampai depan pintu rumahmu, dan berpamitan pada ayahmu yang ternyata belum tidur, hanya untuk menunggumu. Sebelum pergi, kau mengatakan terimakasih untuk malam ini. Aku tersenyum, kau juga tersenyum. Di depan pintu rumah, aku mencium keningmu kemudian berlalu meninggalkan senyum lebar di wajahmu.