Prau dalam empat babak
[ ACT 1 ]

Sebenarnya saya mengusulkan agar kita berempat mendaki melalui jalur Patak Banteng seperti 2 pendakian saya sebelumnya. Dipo sependapat dengan saya, tapi Hanif tidak. Si kampret ini memilih untuk mendaki lewat jalur Dieng, dengan dalih Basecampnya bagus, pemandangannya keren, dan jalur yang tidak terlalu menanjak. Padahal Hanif belum pernah mendaki lewat jalur Dieng. Sedangkan Atiem memilih untuk ngikut aja. Debat kusir terjadi. Demi melindungi harkat dan martabat sebagai lelaki yang selalu memegang ucapannya, saya tetap memilih untuk melalui jalur Patak Banteng. Sampai pada suatu saat, akhirnya saya mengalah untuk mengikuti pendapat Hanif. Saya sadar pertemanan lebih penting daripada jalur pendakian. Lagi pula Hanif punya kuasa atas logistik satu tim.
Sekitar pukul 15.00, kita berenam mulai mendaki melalui jalur Dieng, dengan berbekal doa dan hasrat untuk berfoto di puncak.
[ ACT 2 ]

Saya capek, Atiem nafasnya gak nyampe, Dipo masih tenang di belakang, Nefrit Adi kehausan, Hanif masih aja nyanyi.
45 menit pertama saya masih memimpin tim diikuti Atiem, Hanif, Dipo, Adi dan Nefrit. Tapi di 30 menit berikutnya Hanif yang jauh lebih lama tidak mendaki malah ngebut dan memimpin tim. Padahal pace mendaki saya terbilang cepat. Sepanjang jalan dia dengerin lagu sambil nyanyi tanpa keliatan capek. Saya yang memang suka di urutan depan saat mendaki, mencoba ngebut lagi walau sudah ngos-ngosan.
Demi menjaga harkat dan martabat saya yang dikenal di kalangan teman-teman Wanalana sebagai pendaki tangguh, selepas area Akar Cinta, saya ngebut untuk memimpin tim sampai puncak.
[ ACT 3 ]

Mendekati puncak, pemandangan yang disuguhkan ternyata bagus banget. Jauh lebih bagus daripada jalur Patak Banteng. Demi menjaga harkat dan martabat sebagai lelaki yang jujur dan tidak suka berbohong, akhirnya saya mengaku kepada Hanif. Saya mengakui kalau mendaki melalui jalur Dieng ternyata pilihan dan keputusan yang sangat tepat. Trek tidak terlalu menanjak, pemandangan yang disuguhkan juga oke banget.
Sesaat setelah itu, perilaku Hanif berubah menjadi sedikit jumawa, dan kerap kali mengejek saya karena sempat ngotot tidak setuju dengan pilihannya. Biasa aja kali!
[ ACT 4 ]

Secangkir coklat panas yang dinikmati di luar tenda, dengan langit penuh bintang, diisi dengan percakapan-percakapan sampai larut malam.