North

suatu hari di penghujung musim hujan
aku pernah membuat sebuah sajak
yang selalu berhenti di koma, setelah kata ‘kamu’.
kubiarkan dia berhenti, seperti seorang
intelek yang kehilangan penanya. Atau
seorang pemancing yang kehilangan pancingnya.
kadang dia menyentuh awan di langit sore,
dan mengubahnya menjadi senja
dengan warna jingga dan violet.
“jika kau ingin aku kembali, pulanglah ke utara
pulanglah menghadap ganasnya ombak.
karena aku akan kembali sebagai matahari terbenam,
di langit sore yang tertutup awan”