Super short story #8
Sudah empat kali lelaki itu datang ke kedai ini. Kedai kopi ini tidaklah spesial, hanya kedai kopi kecil pinggiran kota yang tidak banyak orang tahu keberadaannya. Karena tidak banyak yang tahu keberadaan kedai ini, aku jadi sering mengamati pengunjung yang datang, termasuk lelaki itu. Seperti kedatangan-kedatangan sebelumnya, lelaki itu hanya membawa totebag putih yang berisi topi berwarna coklat, dompet kulit yang sudah buluk, sebuah buku novel populer, dan hapenya.
“Cappuccino ice satu”, ucap lelaki itu singkat.
Kebiasaan lelaki itu setelah memesan segelas cappuccino ice adalah: ia akan duduk di meja bar sambil bengong memandang layar hapenya yang ia letakkan di atas meja. Aku bisa melihat sekilas layar hapenya. Di sana tertulis pesan singkat dari seseorang, sepertinya dari adik perempuannya.
“Mas, besok Ibu akan mampir ke kota.” Pesan itu dikirim kemarin.
Ketika minumannya kusajikan, lelaki itu baru akan membalas pesan itu.
“Maaf, aku tidak sedang di kota.”
Sambil menghela napas panjang, lelaki itu kemudian menyeruput cappuccino ice-nya secara perlahan. Seolah-olah kopi dingin itu bisa membekukan momen yang ingin dia hindari.
Dikutip dari halaman 98 sebuah buku kumpulan cerpen berjudul “Jangan Mudah Percaya pada Bayangan di Cermin Rumahmu”